Thursday, 10 June 2010

[greenlifestyle] Re: Silent Revolution !!!

Saya sedang ikut Training Community Enterprise for Social Entrepreneur
nih.
Kemandirian dan kesejahteraan memang perlu diperjuangkan oleh
komunitas itu
sendiri secara kolektif dengan sistem yang disepakati.

Ini salah satu success story yang diangkat di Training tsb
http://www.coinstreet.org/

Bagaimana sebuah masyarakat di kawasan pinggiran London, yang mau
digusur
karena kepentingan investor dan atas nama keindahan + ketertiban,
memperjuangkan
wilayah tsb menjadi tetap bisa mereka huni, kelola, dan mendapatkan
quality og life
yang lebih baik. (Ini cerita dari trainernya).

Mbak Wardah. Aku siap terlibat lebih jauh. Nampaknya kemandirian
komunitas-komunitas kecil
utk menciptakan kehidupan ekonomi-sosial-lngkungan yang lebih baik
bisa dijadikan alternatif.
Mari kita mulai Silent Revolution dari wilayah terdekat masing-masing.

salam,
+s+
Greeneration Indonesia
green attitude green environment

On Jun 9, 6:30 pm, Orang Tani <orang.t...@gmail.com> wrote:
> Begini Mas Idung,
>
> Sebetulnya ada atau tidak adanya ancaman perubahan iklim pun, keadaan bumi
> sudah begitu payah melayani manusia dengan gaya hidup modern yang konsumtif
> ini, sementara ketersediaan sumberdaya alam makin merosot (ini banyak
> buktinya).
> Ancaman yang lebih nyata adalah Peak Oil alias habisnya minyak bumi karena
> itu didukung dengan bukti yang tak terbantahkan (bahkan di negara kita, saya
> memiliki data2 akuratnya), karena bahan bakar fossil ini bukan hanya kita
> pakai untuk fuel tapi semua gaya hidup modern kita ditunjang oleh barang2
> yang bahan bakunya dari petroleum.
>
> Mengenai perubahan iklim meski banyak juga tanda-tanda yang mengarah ke
> sana, tapi menurut saya ancaman itu kurang signifikan kalau dibanding
> besarnya ancaman bencana ekologis yang lain. Kita mengurangi emisi bisa
> dibilang tidak akan mengubah banyak, karena yang paling banyak menyumbang
> emisi itu justru negara maju, bukan kita.
> Silakan lihat jejak karbon negara-negara terlampir. Anda bisa lihat bahwa
> biang keladi kerusakan lingkungan adalah US dan negara maju lainnya, carbon
> footprint negara msikin seperti kita justru sangat keciil sekali. Memang
> kita gunduli hutan dan kita kuras tambang2 , tapi yang mengkonsumsi juga
> mereka juga (di samping tentu saja termasuk orang jakarta yang konsumtif
> ini, hehehe...., meski bukan orang2 miskin di desa).
>
> Gerakan 'transition town' sedang dilancarkan masyarakat di negara maju sejak
> tahun 2004. Memang transition town movement ini masih sangat muda umurnya
> tapi berkembang cukup cepat karena adanya ancaman Peak Oil dan Climate
> Change, meski pada dasarnya tanpa kedua ancaman tersebutpun mereka merasa
> perlu melakukan restoration (menata kembali) lingkungan alam dan lingkungan
> sosial yang sudah berantakan akibat modernisasi di sana.
>
> Karena masih berusia muda gerakan ini belum terbukti keefektifannya melawan
> laju kecepatan kerusakan lingkungan dan sosial di dalam skala besar
> mengingat begitu kuatnya arus konsumerisme dan industrialisasi serta kuatnya
> genggaman korporasi/dunia bisnis dalam menentukan policy pemerintah. Tetapi
> dalam skala kecil, skala komunitas lokal (desa/kampung), bisa dikatakan
> gerakan mereka terbukti berhasil: penduduknya menjadi hemat energi,
> mengurangi pemakaian kendaraan bermotor diganti sepeda, menanam sayur di
> rumah dan di community garden, mereka tidak membeli barang2 impor, mengubah
> gaya hidup menjadi sederhana, keluarga mereka tanpa TV, berhenti makan fast
> food dan kembali memasak, suami-istri mengerjakan sendiri semua keperluan di
> rumah bahkan merenovasi rumah sendiri :)), mereka membuat tempat penjualan
> barang bekas, cloth recycle, mereka membuat worm farm (cacing) untuk memakan
> sampah dapur dan dijadikan kompos, pendidikan lingkungan di sekolah, dsb.
> Biarpun belum mengubah seluruh negara bisa dikatakan gerakan itu berhasil
> karena sebetulnya esensi perubahan itu biarpun hanya terjadi di level
> individu, keluarga dan kampung saja kan sudah bisa dibilang berhasil?
>
> Nah keadaan kita di Indonesia sebetulnya bisa dibilang jauh lebih parah dari
> kerusakan di negara maju baik alam maupun sosialnya…….(saya jadi sulit mau
> melanjutkan bicara)……saya kira Anda sudah cukup tahu. Perekonomian negara
> kita dibangun dari industri ekstraktif (menguras sumberdaya alam) yang
> berbasis export-oriented industry, serta masuknya modal asing dari
> perekonomian global membuat Indonesia makin tak terkendali, ditambah lagi
> perdagangan bebas Free Trade, jadi lengkap sudah.
> …….Kalau bicara masalah ini kita bisa berminggu-2 nggak selesai karena akan
> panjang dan lebar menyangkut ke mana-mana, ya ekonomi global, ya
> konspirasi, ya korupsi, ya global injustices, dsb, ...cape deh.
>
> Dalam situasi seperti ini saya melihat cuma ada satu cara, yaitu membuat
> gerakan transition town seperti di negara maju tsb untuk komunitas kecil di
> Indonesia (RT/RW/desa). Kalau banyak orang yang melakukan ini, apalagi kalau
> mereka terhubung dalam satu jaringan maka akan punya kekuatan untuk menuntut
> perubahan melalui UU otonomi daerah.
>
> Itulah maksud gagasan Kampung Perubahan ini, Mas. Kebetulan saya ikut
> partisipasi dalam satu transition town di Canterbury NZ jadi saya tahu apa
> saja yang mereka kerjakan .
> Yah, itupun kalau gagasan ini diterima, kalau nggak juga nggak apa-apa,
> hehehe...:)) setidaknya saya sudah mencoba menawarkan pada teman2 di kampung
> sendiri.
>
> Wardah
>
> 2010/6/9 idung risdiyanto <idung...@gmail.com>
>
>
>
> > Salam,
>
> > Ide-nya menarik juga....tapi ada yang mengganjal terutama masalah perubahan
> > iklim yang dianggap sebagai ancaman nomor 1 (kalau dari tulisannya mbak
> > Wardah).  Sepanjang pengetahuan saya sebagai orang biasa.....saat ini
> > istilah "Perubahan Iklim" dan "Pemanasan Global" telah menjadi tren dan
> > seolah-olah seperti sebuah dogma/keyakinan/agama baru.
>
> > Semua aspek selalu dikaitkan dengan perubahan iklim dan pemanasan global,
> > misalnya kejadian banjir dan kekeringan di sebagian wilayah Indonesia selalu
> > di vonis akibat perubahan iklim. Yang lainnya,  Pembukaan lahan-lahan
> > pertanian dan perkebunan baru dikaitkan juga dengan perubahan iklim
> > dst...dst
>
> > Kemudian pada saat ini seolah-olah dengan menurunkan emisi
> > karbon..persoalan perubahan iklim selesai..:).  Saya setuju dengan perubahan
> > lingkungan yang makin menurun dalam memberikan jasa alaminya baik dari segi
> > kualitas maupun kuantitas dan kita harus berbuat untuk memperbaiki,
> > mengurangi resikonya ataupun mengadaptasinya, Tetapi saya tidak sepakat
> > kalau semuanya selalu disangkutkan ke perubahan iklim.  Saya suka
> > mengibaratkan seperti ini "Kalau aqidahnya saja sudah meragukan atau bahkan
> > salah, maka syariat apapun yang dilakukan pasti salah"
>
> > Mohon maaf kalau kurang berkenan, saya sekedar memberikan prespektif lain
> > dan terbuka untuk mendiskusikan hal ini, terutama masalah perubahan iklim.
>
> > Salam
> > idung (http://banyumilih.blogspot.com)
>
> > Pada 7 Juni 2010 14:13, anita arif <anita_sy...@yahoo.com> menulis:
>
> >  Orang Tani alias Mba' Wardah yang mulia, dan teman2 GL sekalian ...
>
> >> Setuju, dan salut dengan kesadaran dan penyebaran kesadaran ini... Silent
> >> Revolution... artinya, kita lebih perlu bertindak daripada berteriak2
> >> kan...? Dan selalu mulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga untuk
> >> memberi teladan... Dan seterusnya bisa lebih luas lagi untuk membentuk
> >> network...
>
> >> Ya, mari kita mulai... bagi yang sudah mulai, mari kita teruskan...
>
> >> Salam Lestari,
>
> >> anita
>
> >>  ------------------------------
> >> *From:* Orang Tani <orang.t...@gmail.com>
> >> *To:* greenlifestyle@googlegroups.com
> >> *Sent:* Sat, June 5, 2010 5:57:44 AM
> >> *Subject:* [greenlifestyle] Silent Revolution !!!
>
> >> Teman-teman GL yang budiman,
> >> Saya sedang melakukan sebuah riset untuk melihat sejauh apa masyarakat
> >> Indonesia mau melakukan perubahan gaya hidup yang signifikan untuk menjadi
> >> green dan sustainable.
>
> >> Di samping mendatangi beberapa lokasi di Jawa dan Bali saya juga masuk ke
> >> komunitas virtual Milis.  Yang mengejutkan, ternyata rata-rata Milis yang
> >> mendiskusikan berbagai persoalan bangsa dan negara itu sama sekali tidak
> >> peduli dengan masalah lingkungan apalagi mau mengubah gaya hidup. Mereka
> >> jauh lebih tertarik bicara terus masalah korupsi, teroris, debat agama,
> >> Susno, SBY, dan sekarang makin riuh dengan Gaza dan Israel-Palestina....
>
> >> Nah, bagaimana kalau saya melempar ide *KAMPUNG PERUBAHAN* dan *JARINGAN
> >> PERUBAHAN INDONESIA* di milis GL, apa respons teman2 ???   Anda tidak
> >> harus menyenangkan saya dengan merespons positif...hehehe.....kalau menurut
> >> Anda itu tidak bisa dilakukan justru saya ingin mendengar apa
> >> hambatan/kendala nya untuk membuat Kampung Perubahan dan Jaringan Perubahan
> >> bisa berjalan di Indonesia? Itulah pertanyaan yang saya cari jawabannya
> >> dalam riset ini.
>
> >> Saya yakin anggota milis GL sudah tahu ancaman sbb:
>
> >> 1. Perubahan Iklim: Krisis pangan, krisis air bersih, banjir, kekeringan.
> >> Sudah mulai.
>
> >> 2. Habisnya Minyak Bumi: Krisis energi sudah mulai. 30-40 thn lagi minyak
> >> diduga akan habis.
>
> >> 3. Penipisan cadangan sumberdaya alam di semua sektor dan krisis semua
> >> penopang
> >>     kehidupan kita sudah mulai, pencemaran air, udara, tanah. Anda tahu
> >> kan kecepatan
> >>     kehilangan hutan Indonesia sekarang 1.3 - 2 juta hektar/tahun?
>
> >> 4. Gangguan kesehatan jiwa baik individual maupun sosial dikarenakan
> >> banyaknya
> >>     kekecewaan pada pemerintah dan pada situasi secara umum
>
> >> 5. Konflik horizontal, karena pemerintah tidak bisa menjembatani
> >> perbedaan dan keragaman
> >>     kultural dalam masyarakat
>
> >> 6. Dekadensi moral generasi muda dan masuknya faham2/aliran pemikiran yang
>
> >>     membingungkan dan mengganggu proses transfer nilai antar generasi
>
> >> 7. Terjadinya Krisis Identitas dan Krisis Kebudayaan yang akut
>
> >> *Sedangkan,*
>
> >> Kita juga tidak melihat adanya titik terang harapan dari jalannya
> >> pemerintah yang sekarang, Malah makin besar peluang negara kita
> >> diobok-obok kekuatan asing (contoh: (yang banyak beredar di milis2) dengan
> >> dijadikannya bekas menteri keuangan menjadi direktur bank dunia)
>
> >> *Jadi*
>
> >> *Bagaimana kalau kita milis Green Lifestyle ini saja yang mengambil alih
> >> menentukan nasib bangsa ini ke depan?*
> >> **
> >> *Caranya?*
>
> >> Masing2 kita di milis ini jadi pemimpin gerakan KAMPUNG PERUBAHAN yang
> >> dimulai di kampung atau lingkungan kita masing-masing.
>
> >> *
> >> *
>
> >> *Lalu,*
>
> >> Kita buat networking JARINGAN PERUBAHAN INDONESIA . Jaringan ini
> >> berkomunikasi melalui internet website
>
> >> Masing2 kita menjadi inisiator membuat "Kampung Perubahan" di tempat kita
> >> sendiri-sendiri.
>
> >> *Apa saja yang dilakukan? *
>
> >> Bertahap.
>
> >> *Tahap Pertama:*
>
> >> 1.   Menggencarkan program KB
>
> >> 2.   Mendidik masyarakat tentang kegawatan situasi (saya bisa kasih
> >> bahannya)
>
> >> 3.   Perubahan gaya hidup:
>
> >> a.    Hemat energi
>
> >> b.   Beli produk lokal
>
> >> c.    Belanja di pasar tradisional dan toko tradisoonal (tidak lagi ke...
>
> read more »
>
>  Chart Ecological Footprint by Region.jpg
> 59KViewDownload

--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "GreenLifestyle" group - Share this email!
To post to this group, send email to greenlifestyle@googlegroups.com
To unsubscribe from this group, send email to greenlifestyle-unsubscribe@googlegroups.com
For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/greenlifestyle?hl=id