Wednesday, 2 June 2010

[greenlifestyle] Fw: [lantanbentala] Undangan Seminar Perubahan Iklim - Environmental Sociology Program [1 Attachment]



----- Forwarded Message ----
From: Yayasan Lantan Bentala <lantan.bentala@gmail.com>
To: lantanbentala@yahoogroups.com
Sent: Wed, June 2, 2010 4:08:50 PM
Subject: [lantanbentala] Undangan Seminar Perubahan Iklim - Environmental Sociology Program [1 Attachment]

 
[Attachment(s) from Yayasan Lantan Bentala included below]

Pembaca,
Barangkali Anda tertarik untuk hadir dalam seminar perubahan iklim yang diadakan oleh Departemen Sosiologi UI.
Bacalah infonya berikut ini.
Salam
Redaksi






------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- ------

Term of Reference

Seminar

Perubahan Iklim: Tantangan bagi Indonesia

 

A.   Latar Belakang

Perubahan iklim telah dikonstruksi sebagai masalah global terutama sejak Konferensi Rio 1992 dengan menghadirkan bukti-bukti ilmiah berupa meningkatnya volume dan suhu air laut, meningkatnya curah hujan, dan banyaknya kejadian bencana ekstrem yang dikorelasikan dengan terjadinya pemanasan global. Implikasinya, negara-negara di dunia, tanpa membedakan kaya atau miskin, dituntut bersama-sama bertanggung jawab menghadapi masalah tersebut. Di antaranya, konferensi ini telah menghasilkan kesepakatan bagi negara-negara anggota PBB untuk menurunkan emisi karbon yang dianggap sebagai biang terjadinya pemanasan global. Namun, kesepakatan ini tidak mengatur bagaimana mekanisme pengurangan emisi itu dilakukan, hingga di tahun 1997 melalui pertemuan ketiga (COP 3) di Kyoto dihasilkan kesepakatan yang lebih mengikat berupa protokol.

Tugas Indonesia bersama negara-negara berkembang lainnya adalah memaksa negara maju untuk membuat kesepakatan yang mengikat untuk bersungguh-sungguh mengurangi emisi gas rumah kaca. Bukan sebaliknya menyamakan kebijakan untuk negara berkembang juga untuk megurangi emisi di sektor energi fosil. Faktanya, Indonesia, sebagai pemilik hutan tropis terbesar ketiga setelah Brazil dan Kongo, lebih berperan sebagai penyerap karbon dari pada sebaliknya.

Sayangnya, paradigma yang digunakan negara-negara berkembang dalam penyelesaian persoalan perubahan iklim masih bersifat ekonomistis dan oportunis dalam kerangka perdagangan karbon. Karena, negara maju bisa saja berdalih sudah berkontribusi dalam penyelesaian perubahan iklim dengan membiayai seluruh upaya konservasi hutan di negara-negara berkembang tanpa mengurangi emisi kegiatan industrinya. Sementara, tidak ada jaminan dana itu diberikan dalam skema bantuan daripada skema utang yang mengikat.

Jika tidak disikapi dengan hati-hati, besar kemungkinan justru kompensasi yang diberikan untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim akan menimbulkan masalah baru dalam pengelolaan sumber daya alam di Indonesia. Skema utang akan semakin menjerat Indonesia dalam mengelola hutannya karena akan diwarnai dengan intervensi pemberi utang.  Di samping itu, orientasi pengelolaan hutan pada akhirnya hanya ditujukan semata-mata untuk memenuhi kewajiban negara maju dalam mengkompensasi upaya pengurangan emisinya, tanpa memperhatikan hak masyarakat adat yang telah tinggal turun-temurun di dalamnya.

Jika dalam hal ekonomi negara-negara dunia ketiga diperlakukan sebagai pasar dan penyedia tenaga kerja murah bagi negara kapitalis maju, maka dalam soal lingkungan negara non Annex-1 semata-mata dijadikan penyangga bagi kemakmuran negara maju. Seolah, negara-negara selatan tidak berhak melakukan pembangunan dengan alasan semakin memperparah terjadinya pemanasan global. Ini ironi yang tidak bisa dibiarkan.

B.   Bentuk Kegiatan

1.      Susunan Acara

Seminar ini rencananya akan diselenggarakan pada hari Kamis, 10 Juni 2010 selama 1 hari yang terdiri dari 3 sesi, dengan alokasi waktu sebagai berikut:

No.

Waktu

Pembicara (Lembaga)

Nama (Kontak)

1

Pembukaan

08.45 – 09.00

Ketua Program Pascasarjana

Rektor UI

-

2

Sesi I:

Perubahan Iklim: Masalah bagi Indonesia

09.00 – 11.00

Departemen Sosiologi UI

 

Francisia SSE Seda

 

Kementerian Kehutanan RI

 

Darori (Dirjen PHKA):

CIFOR

 

Frances J Seymour (DG)

WALHI

 

Berry Nahdian Furqon (Direktur EN):

 

3

Coffee Break

11.00 – 11.30

-

-

4

Sesi II:

Berbagai Perspektif dalam Merespon Dampak Perubahan Iklim

11.30 – 13.30

Departemen Antropologi UI

 

Suraya Afiff

 

Kementerian Lingkungan Hidup

 

Deputi Menteri Bidang Tata Lingkungan

 

APHI (Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia)

 

 

Nana Suparna (Wk Ketua Bidang Hutan Alam)

ICEL

 

Rhino Subagyo (Direktur Eksekutif)

 

5

Makan Siang

 

 

13.30 – 14.00

-

-

6

Sesi III:

Alternatif Solusi Perubahan Iklim

14.00 – 16.00

Pusat Studi Ilmu Lingkungan UI

 

Setyo Mursidiq

WWF Indonesia

 

Ari Muhammad

 

Yayasan Pelangi Indonesia

 

Kuki Soejacmoen (Direktur Eksekutif)

Bappenas

 

 

Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup

7

Penutupan

16.00 – 16.15

Ketua Program Pascasarjana

-

 

2.      Tempat

Kegiatan ini direncanakan akan diselenggarakan di Pusat Studi Jepang (PSJ-UI).

Biaya: Gratis
Pendaftaran peserta:
Ketik ESP<spasi>Nama Lengkap<spasi>E-mail kirim ke: 085746113613










--
Edisi lama dapat diunduh di http://www.mediafire.com/?sharekey=6c345f894e76715bab1eab3e9fa335ca3aa17db3d91883d0
__._,_.___

Attachment(s) from Yayasan Lantan Bentala

1 of 1 Photo(s)

Recent Activity:
.

__,_._,___