[Attachment(s) from Yayasan Lantan Bentala included below] Pembaca,
Barangkali Anda tertarik untuk hadir dalam seminar perubahan iklim yang diadakan oleh Departemen Sosiologi UI.
Bacalah infonya berikut ini.
Salam
Redaksi
------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- ------ Term of Reference Seminar Perubahan Iklim: Tantangan bagi Indonesia A. Latar Belakang Perubahan iklim telah dikonstruksi sebagai masalah global terutama sejak Konferensi Rio 1992 dengan menghadirkan bukti-bukti ilmiah berupa meningkatnya volume dan suhu air laut, meningkatnya curah hujan, dan banyaknya kejadian bencana ekstrem yang dikorelasikan dengan terjadinya pemanasan global. Implikasinya, negara-negara di dunia, tanpa membedakan kaya atau miskin, dituntut bersama-sama bertanggung jawab menghadapi masalah tersebut. Di antaranya, konferensi ini telah menghasilkan kesepakatan bagi negara-negara anggota PBB untuk menurunkan emisi karbon yang dianggap sebagai biang terjadinya pemanasan global. Namun, kesepakatan ini tidak mengatur bagaimana mekanisme pengurangan emisi itu dilakukan, hingga di tahun 1997 melalui pertemuan ketiga (COP 3) di Kyoto dihasilkan kesepakatan yang lebih mengikat berupa protokol. Tugas Indonesia bersama negara-negara berkembang lainnya adalah memaksa negara maju untuk membuat kesepakatan yang mengikat untuk bersungguh-sungguh mengurangi emisi gas rumah kaca. Bukan sebaliknya menyamakan kebijakan untuk negara berkembang juga untuk megurangi emisi di sektor energi fosil. Faktanya, Indonesia, sebagai pemilik hutan tropis terbesar ketiga setelah Brazil dan Kongo, lebih berperan sebagai penyerap karbon dari pada sebaliknya.
Sayangnya, paradigma yang digunakan negara-negara berkembang dalam penyelesaian persoalan perubahan iklim masih bersifat ekonomistis dan oportunis dalam kerangka perdagangan karbon. Karena, negara maju bisa saja berdalih sudah berkontribusi dalam penyelesaian perubahan iklim dengan membiayai seluruh upaya konservasi hutan di negara-negara berkembang tanpa mengurangi emisi kegiatan industrinya. Sementara, tidak ada jaminan dana itu diberikan dalam skema bantuan daripada skema utang yang mengikat. Jika tidak disikapi dengan hati-hati, besar kemungkinan justru kompensasi yang diberikan untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim akan menimbulkan masalah baru dalam pengelolaan sumber daya alam di Indonesia. Skema utang akan semakin menjerat Indonesia dalam mengelola hutannya karena akan diwarnai dengan intervensi pemberi utang. Di samping itu, orientasi pengelolaan hutan pada akhirnya hanya ditujukan semata-mata untuk memenuhi kewajiban negara maju dalam mengkompensasi upaya pengurangan emisinya, tanpa memperhatikan hak masyarakat adat yang telah tinggal turun-temurun di dalamnya. Jika dalam hal ekonomi negara-negara dunia ketiga diperlakukan sebagai pasar dan penyedia tenaga kerja murah bagi negara kapitalis maju, maka dalam soal lingkungan negara non Annex-1 semata-mata dijadikan penyangga bagi kemakmuran negara maju. Seolah, negara-negara selatan tidak berhak melakukan pembangunan dengan alasan semakin memperparah terjadinya pemanasan global. Ini ironi yang tidak bisa dibiarkan. B. Bentuk Kegiatan 1. Susunan Acara Seminar ini rencananya akan diselenggarakan pada hari Kamis, 10 Juni 2010 selama 1 hari yang terdiri dari 3 sesi, dengan alokasi waktu sebagai berikut: | No. | Waktu | Pembicara (Lembaga) | Nama (Kontak) | | 1 | Pembukaan | | 08.45 – 09.00 | Ketua Program Pascasarjana Rektor UI | - | | 2 | Sesi I: Perubahan Iklim: Masalah bagi Indonesia | | 09.00 – 11.00 | Departemen Sosiologi UI | Francisia SSE Seda | | Kementerian Kehutanan RI | Darori (Dirjen PHKA): | | CIFOR
| Frances J Seymour (DG) | | WALHI | Berry Nahdian Furqon (Direktur EN): | | 3 | Coffee Break | | 11.00 – 11.30 | - | - | | 4 | Sesi II: Berbagai Perspektif dalam Merespon Dampak Perubahan Iklim | | 11.30 – 13.30 | Departemen Antropologi UI | Suraya Afiff | | Kementerian Lingkungan Hidup | Deputi Menteri Bidang Tata Lingkungan | | APHI (Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia) | Nana Suparna (Wk Ketua Bidang Hutan Alam) | | ICEL | Rhino Subagyo (Direktur Eksekutif) | | 5 | Makan Siang | | | | 13.30 – 14.00 | - | - | | 6 | Sesi III: Alternatif Solusi Perubahan Iklim | | 14.00 – 16.00 | Pusat Studi Ilmu Lingkungan UI | Setyo Mursidiq | | WWF Indonesia | Ari Muhammad | | Yayasan Pelangi Indonesia | Kuki Soejacmoen (Direktur Eksekutif) | | Bappenas | Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup | | 7 | Penutupan | | 16.00 – 16.15 | Ketua Program Pascasarjana | - | 2. Tempat Kegiatan ini direncanakan akan diselenggarakan di Pusat Studi Jepang (PSJ-UI). Biaya: Gratis Pendaftaran peserta: Ketik ESP<spasi>Nama Lengkap<spasi>E-mail kirim ke: 085746113613
|
|
--
Edisi lama dapat diunduh di http://www.mediafire.com/?sharekey=6c345f894e76715bab1eab3e9fa335ca3aa17db3d91883d0