Dear mas Iwan, mirip dengan tulisan saya kecuali tentang parkir timur yang anda kerjakan dengan putranya pak Moerdiono? Mensesneg waktu itu, tadinya kawasan itu dirancang untuk stadion tennis, untung tidak jadi!. hehehe. Dan juga dipilih tan jenis trembesi mungkin sekaligus menyesuaikan dengan pohon-2 trenbesi berjejer teduh dan menimbulkan rasa tenang karena sudah dalam kondisi optimal growth tsb.
Maka dari itu saya sangat prihatin mendengar bahwa area ex-Putt putt golf dan lapangan A, B, C samasekali akan dibongkar untuk bangunan super modern, dan masih diteliti (yang ditugasi a.l. mbak Anggia Murni?) untuk dipilih tanaman mana saja yangbisa dipindahkan (transferred 'instant'' trees). Menuirut saya yang sudah "ketinggalan jaman" ini sebagus dan sesukses apa pun, maka transfer pepohonan yang sudah amat bagus tsb. (contohnya kaya, kenanga, asam, dll banyak sekali yang langka khususnya di area depan hotel Century itu) akan memerlukan waktu untuk (bisa) hidup kembali dibanding dibiarkan tetap di lahan aslinya dan justru kalaupun perlu ada pembangunan struktur (fisik) lah yang msejauh mungkin dapat menyesuaikan dengan "titik-titik" pohon yang sudah ada. Hanya Tuhan lah yang bisa mempertahankan atau menjaga agar biota apapun bisa hidup dengan sehat guna kehidupan mahluk lain (manusia dan hewan) itupun untuk jangka waktu tertenu saja.
BTW terimakasih atas crita-2nya khusus untuk TRR yang saya ikut terlibat penuh dalam perancangan dan pelaksanaan, sebagai bagian tak terpisahkan dengan green roof di atap kura-kura yang Jum'at lalu di coret-2 sama mas Pong Haryatmo (putra perwira polisi) dan aktor terkenal itu, dan tentuj uga dengan taman hutan mini di sebelah timur kawasan dan plaza air mancurnya. Tambahan: TRR dirancang tak hanya untuk menampung surface run off, tetapi yang penting adalah kolam dari sistem cooler AC sari gedung-2m egah itu. Entah kenapa lobangnya tertutup, dugaan saya ya karena air sudah sangat tercemar, akibat buangan limbah padat dan cair a.l. dari restoran-2 di sekitar kolam (tak hanya Pulau Dua yang lalu disusul oleh TGIF, Bebek Bengil, dll) sehingga airnya menghijau dan debitnyamenjadi surut, sebab mungkin tak ada lagi "pencairan" hasil siklus alami
Sekian dulu sudah ngantuk dan capek nih, maklum sudah uzur, bener kata mas BIntang kalau yang tua-2 sebaiknya banyak istirahat, tapi saya memang ga bisa istirahat - rasanyam enjadis emacam patung taj berguna, hehehe. Salam HL, Oya crita tentang YGBK ini bisa dibaca pada Buku 'Sejarah' dari Gelora Bung Karno ke Gelora Buing Karno, karangan beberapa ppelaku sejarah yang dihimpun oleh mas Pur dan diedit oleh Julius Pour (Kompas). Begitu buku itu terbit dengan ijin YGBK waktu itu melalui mas Pur sebagai ketua team penyusun buku, saya sumbangkan masing-2 satu buku baik kepada PN-IALI maupun ke PN-IAI danbeberapa LSM.dan PTN/PTS terkait (harganya waktu itu Rp 500.000,- saya ingat sekali karena MAHAL)
Ning P
--------------------
From: Iwan Ismaun To: Lintas_angkatan_fal_trisakti@yahoogroups.com Sent: Monday, August 02, 2010 9:58 PM Subject: [Lintas_angkatan_fal_trisakti] Wajah
Pak Beni, dan teman2 lintaser
Kawasan Gelora Bung Karno mencakup luas 279,61 Ha, termasuk kawasan RTH Olahraga dengan ketentuan KDB 20%. Kawasan ini sebetulnya mencakup Manggala Wanabakti, Komplek DPR/MPR, JCC, TVRI, Kementerian Plahraga, Hotel Mulia, Senayan City, Plaza Senayan, KemDiknas, Ratu Plaza, Panin Bank, Hotel Sultan(d/h Hilton), sedangkan saat ini yang dikelola oleh Direksi GBK kurang dari separuh kawasan (atau malah sepertiganya), karena yang lain dikelola pihak ketiga. Luas TRR sebetul kecil (11,6 Ha) tapi dampaknya besar. TRR pada mulanya merupakan taman yg terintegrasi dengan kawasan DPR/MPR (d/h Komplek Conefo) dan berfungsi sebagai taman danau (The Lake) untuk menampung air hujan (water retention) kawasan sekitarnya. Jadi untuk pengembangan TRR saya kira perlu kajian ekologis/hidrologis agar ada jastifikasi akademis dari aspek lansekap/lingkungan. Hal ini juga mengacu pada ketentuan IOC (International Olypic Committe) dalam Guide on Sport, Environment and Sustainable Development. Contohnya seperti desain yang saya buat untuk pembangunan parkir timur.
Dengan luas 8,6 Ha, data curah hujan tertinggi harian 119 mm (th 2003) dan koefisien run off 0,75, maka parkir timur dapat meresapkan air hujan kl 767,55 m3. Dengan perhitungan ini maka parkir timur didisain dengan jenis perkerasan conblock dan grass block serta dibangun sumur resapan 115 unit. Konsepnya adalah zero runoff. (Pada banjir besar Jakarta th 2007 parkir timur menjadi posko banjir). Dengan perhitungan yang sama (berdasarkan data BMKG) kita bisa menghitung volume air hujan selama satu tahun .
Sedangkan penanaman 800 ph tanaman penghijauan pada area taman parkir timur (dengan perhitungan berdasarkan proses fotosintesis), dapat memproduksi oksigen 1.360 kg/jam dan menyerap karbondioksida 1.840 kg/jam. Udara menjadi bersih dan sehat. Dan dengan penghijauan yang ada dapat menurunkan temperatur lingkungan 2-3 derajat celcius.
Jadi prinsipnya adalah bahwa disain lansekap harus bisa memberi jastifikasi peningkatan kualitas lingkungan yang baru, bukan sebaliknya. Pengembangan TRR perlu kajian lansekap/lingkungan terutama aspek ekologis/hidrologis agar tercapai keseimbangan baru yang dinamis (dynamic equilibrium) untuk meningkatkan kualitas kawasan GBK. Iwan Ismaun
-----------------------------------------