Berita lainnya dan selengkapnya lihat di : http://library.pelangi.or.id/?pilih=arsip&topik=7
RI-Norway partnership: REDD at a crossroads
02-Aug-2010; 07:10
The reducing emission from deforestation and forest degradation (REDD) initiative finds its real battlefield. After the announcement of the Indonesian-Norway partnership on the forestry sector, aimed to reduce carbon emissions from this sector, there have been intense debates on the issue.
The question is will this scheme significantly contribute to solve forest degradation problems, with minimum harm to other sectors?
Indonesia Belum Siap untuk Membangun PLTN
03-Aug-2010; 06:52
Selasa, 3 Agustus 2010 | 04:24 WIB
Jakarta, Kompas - Hingga 2019, belum ada proyeksi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir karena pertimbangan banyak faktor, antara lain ketersediaan energi nonmigas lainnya yang lebih potensial, aspek penguasaan teknologi, penerimaan masyarakat, serta pendanaan.Meski nuklir perlu tetap dipertimbangkan sebagai energi alternatif masa depan di Indonesia, sesuai undang-undang ketenaganukliran, bangsa ini harus mandiri dalam pengembangan teknologi nuklir untuk pembangkit listrik. Dan, teknologi yang dipilih bukan fisi atau penguraian, melainkan fusi atau penggabungan nuklir yang jauh lebih aman.
RI-Jepang Bangun Pabrik Bioetanol
03-Aug-2010; 07:03
Selasa, 3 Agustus 2010 | 02:37 WIB
Jakarta, Kompas - Pemerintah Indonesia serta Organisasi Pengembangan Teknologi Industrial dan Energi Baru Jepang sepakat membangun pabrik bioetanol dengan bahan baku tetes tebu. Proyek dengan total nilai investasi sebesar 26 juta dollar AS ini akan menghasilkan 30.000 kiloliter bioetanol per tahun.
Penandatanganan nota kesepahaman kerja sama itu dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Agus Tjahayana serta Pimpinan Organisasi Pengembangan Teknologi Industrial dan Energi Baru Jepang (NEDO) Seiji Murata di Jakarta, Senin (2/8). Sebagai proyek percontohan akan dilaksanakan di pabrik gula Gempolkerep milik PT Perkebunan Nusantara X.
Macet dan Wajah Kebijakan Publik
03-Aug-2010; 07:05
Selasa, 3 Agustus 2010 | 03:01 WIB |OPINI
Tata Mustasya
Kemacetan Jakarta yang kian memberatkan (warga dapat menghabiskan sekitar empat jam di perjalanan dalam sehari) sebenarnya buah aneka kebijakan publik puluhan tahun.
Kemacetan demikian sekaligus contoh nyaris sempurna kecompang-campingan wajah kebijakan publik di berbagai bidang. Ia menghantui berbagai bidang vital: pendidikan, kesehatan, dan pembangunan ekonomi.