Monday, 6 December 2010

[greenlifestyle] Fw: Seminggu bersama pengungsi dari dusun Pelemsari (Kinahrejo, Ngrangkah)

 
----- Original Message -----
Cc: SKEPHI
Sent: Monday, December 06, 2010 10:10 AM
Subject: Seminggu bersama pengungsi dari dusun Pelemsari (Kinahrejo, Ngrangkah)

Minggu lalu, saya menjenguk saudara-saudara kita para pengungsi dari Dusun Pelemsari (Kinahrejo, Pelemsari, dan Ngrangkah) Desa Umbulharjo, Kec. Cangkringan, Sleman yang menghuni barak pengungsian di daerah Tridadi, Sleman, DIY. Saya salut dengan kebersamaan mereka, di mana para ibu-ibu secara bergiliran memasak untuk para pengungsi. Di bantu oleh beberapa relawan yang turut menjaga dan mendistribusikan bantuan logistik dari para dermawan, para ibu-ibu ini dengan semangat kebersamaan selalu siap sedia untuk menyediakan makanan tepat wak pagi, siang, dan malam.

Sementara anak-anak, dengan dampingan para relawan, juga menjalani rutinitas mengaji (TPA), belajar, dan bermain pada sore harinya. Pagi harinya, anak-anak itu bersekolah dengan menumpang sekolahan yang terdekat dengan lokasi barak pengungsian. Kendati mereka tinggal di barak pengungsian, mereka (anak-anak) tetap bersemangat untuk belajar.

Namun demikian, terlihat pula beberapa ibu-ibu sedang memarahi anaknya yang berkali-kali minta jajanan baik berupa makanan kecil maupun mainan. Kondisi ini memang terlihat kontras, karena dengan keadaan yang serba sulit di mana para pengungsi ini telah kehilangan hampir seluruh hartanya (rumah, hewan, dan pekerjaan/penghasilan), anak-anak seperti tak mau tahu, terus merengek dan menangis minta uang untuk jajan. Ini membuat para ibu sering marah-marah, karena bekal mereka memang sangat minim. Kalau ada dermawan yang memberi uang, maka ibu-ibu ini baru bisa memberikan uang jajan kepada anaknya.

Di sinilah sebenarnya permasalahan mulai muncul. Kendati logistik makanan tercukupi, namun keinginan anak-anak untuk jajan ini menjadi permasalahan sendiri pagi para orang tua. Jadi bila ada yang bilang para pengungsi cukup diberi makan setiap hari, maka cobalah bersama mereka dan menanyakan apa perlu uang? Apalagi mereka masih harus menunggu sampai waktu yang tak menentu untuk bisa tinggal di rumah, mengingat saat ini sedang dibangun selter atau hunian sementara, sedangkan untuk bisa mendapatkan rumah permanen, mereka tak tau sampai kapan.

Selama seminggu tinggal di pengungsian bersama mereka, saya sempatkan naik ke kampung halaman saya (Pelemsari) untuk melihat kondisi bekas rumah orang tua saya. Benar-benar pemandangan yang sangat memilukan hati. Rumah-rumah telah rata dengan tanah, dan kampung itu tak ubahnya seperti gurun pasir. Sungguh hati ini terasa pilu, kampung halaman yang selama ini begitu asri dan indah, kini berubah menjadi padang pasir.

Inilah salah satu pengalaman saya selama seminggu bersama para pengungsi dari Pelemsari. Mudah-mudahan ini membuat kita bisa berbuat atau membantu mereka...


Salam

Sarono Setyo Rahardjo