Wednesday, 8 December 2010

[greenlifestyle] [artikel ] Bike to School Goes to UN Climate Change Conference: Menuju UN Climate Change Conference

Berita lainnya dan selengkapnya lihat di : http://library.pelangi.or.id/?pilih=arsip&topik=7

 

 

 

Bike to School Goes to UN Climate Change Conference: Menuju UN Climate Change Conference
08-Dec-2010
Rabu, 8 Desember 2010 | 07:20 WIB
Palmerah, Warta Kota

Anggota Bike to School (BtS), Muhammad Nur Pratama (Tama), berkesempatan menghadiri Konferensi Perubahan Iklim (Climate Change Conference) yang dilaksanakan United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Cancun, Meksiko. Tama akan membagi pengalamannya lewat tulisan-tulisanya. Inilah cerita pertamanya - Redaksi

Dingin, hanya itu yang dapat saya, Khoirul Anwar (Universitas Negeri Semarang), dan Sekhudin (Tribun Timur) ucapkan saat berada di Narita International Airport. Setelah berada di ketinggian 41.000 kaki selama kurang lebih 7 jam dalam pesawat Garuda Indonesia GA 884 dari Soekarno Hatta International Airport, tak banyak yang terlintas di benak kami selain kata dingin. Wajar saja, suhu di Narita International Airport, tempat kami transit, menunjukan angka 11 derajat Celcius, berbeda dengan suhu di Ibu Kota negara kami, Jakarta.[read]

Indonesia Perbaiki Peringkat Emisi Karbon
07-Dec-2010; 09:07
Selasa, 7 Desember 2010
JAKARTA (Suara Karya): LSM German Watch dan Climate Action Network (CAN) Europe mengeluarkan laporan Indeks Kinerja Perubahan Iklim yang menyebutkan Indonesia berhasil mengurangi emisi karbondioksida dengan peringkat indeks naik dari 23 pada 2010 menjadi 21 pada 2011."Indonesia menempati ranking yang lebih baik tahun ini yaitu ranking ke 21, berdasarkan trend emisi, tingkat emisi dan kebijakan iklim," kata Penasehat Senior German Watch, Jan Burch usai presentasi laporan "The Climate Change Performance Index" pada `side event` KTT (COP) ke-16 Perubahan Iklim di Cancun, Meksiko, Senin.

 

Indonesia Terancam Tidak Dapat Dana Pasar Karbon
07-Dec-2010; 07:11
Selasa, 7 Desember 2010
JAKARTA (Suara Karya): Indonesia terancam tidak mendapatkan dana dari pasar karbon sukarela (voluntary market) apabila Protokol Kyoto yang mewajibkan negara maju menurunkan emisi tidak diberlakukan kembali.
"Indonesia bisa tidak dapat dana tambahan perubahan iklim dari pasar. Hanya bisa mendapatkan dana dari bantuan jalur cepat (fast track financing) atau pinjaman internasional dengan bunga rendah," kata Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Bidang Lingkungan Global dan Kerja Sama Internasional, Liana Bratasida di Meksiko, Senin.